Posted by: Sarie on: April 5, 2007
See : Banjirnya media ttg ponsel di Indonesia.
Kalo dirunut, media yang mengusung tema ponsel dan telekomunikasi di Indonesia banyak juga, ya.. Liat aja …..
|
Media Bulanan
|
Dwi Mingguan
|
Majalah yang bersinggungan (menyajikan review ponsel beberapa halaman saja)
|
ada yang ketinggalan, ga? Semuanya menyajikan konten yang hampir sama. Review, tip n trik, bisnis, profil, harga dan yang lainnya.
Think : Mana yang paling pertama?
Konon jika berbicara majalah, anda pasti bilang kalau Selular adalah majalah yang pertama. Bisa jadi memang benar adanya. Namun yang membingungkan saya adalah, ketika saya pernah melamar menjadi korektor bahasa di sebuah perusahaan media yang berkantor di Pulogadung (menerbitkan majalah AudioVideo juga), saya sempat di wawancara oleh Pemred-nya langsung, klo ga salah namanya Ir. Chandra Ghazali. Nah, dia sempat curhat sama saya (karena saya pernah menulis di Digicom dan kebetulan dia kenal dengan Pak Harry Hartono) dia mengklaim kalau ide dan gagasan tentang media ponsel adalah miliknya, bahkan saya sempat dikasih tahu edisi pertama majalahnya. Kemudian dia memperpanjang ceritanya, ketika dia memerintahkan orang-orangnya tuk mencari investor, termasuk ke Harry Hartono, karena keteledoran salah satu orangnya, konon proposal mereka sempat tertinggal di suatu perusahaan distributor yang akan mereka tawari investasi. Akhirnya, mereka buru-buru membuat edisi pertama majalah tersebut. Namun karena ketiadaan dana, akhirnya semua berhenti di tengah jalan.
Entah cerita tersebut benar atau tidak. Yang jelas peminat ponsel lebih kenal dengan Majalah Selular, bahkan bisa dibilang majalah tersebut menjadi yang pertama dan terbaik dengan usia lebih dari tujuh tahun. Walaupun sebenarnya saya pribadi lebih suka baca T&t dan tulisan-tulisannya Bu Icha yang selalu menyoroti carut marut bisnis telko n engga segan-segan buat ngecam vendor atau operator yang dianggapnya engga rasional. Tentu aja, gaya bahasanya yang lebih saya suka. Sedangkan Majalah Selular, paling-paling saya baca kalo kebetulan ketemu aja (engga beli), trus paling2 baca tulisannya Adhi aja sama tulisannya Mas Lukman.
Nah, lain lagi dengan yang namanya tabloid. Saya sempat mengira bahwa tabloid tentang ponsel pertama adalah Pulsa, namun setelah saya liat tabloid Ponsel mereka mengklaim bahwa mereka adalah tabloid selular pertama di Indonesia. Sempat bingung juga sih, ternyata banyak juga tabloid dengan nama yang hampir mirip (engga kreatif atau emang ada maksud tertentu dibalik itu semua) sebut saja PonselKu, News Ponsel, Tren Ponsel (apalah namanya). Ternyata, usut punya usut, beberapa tabloid tersebut memang memiliki kekerabatan (artinya pernah berada dalam satu perusahaan) Mereka berawal dari Top Group Surabaya. Berbekal pengalaman tabloid infotaintment, alumni mereka membuat PT Daya Karya Media yang menerbitkan tabloid Ponsel yang pertama kali beredar di Surabaya. Kebanyakan kontennya dikaitkan dengan infotaintment (ponsel dan seleb). Lalu entah karena apa, terjadi perpecahan di dalam sehingga sebagian personilnya menciptakan Tabloid PonselKu. Anehnya mereka masih bernaung di payung yang sama, PT Daya Karya Media.
Kalau dilihat dari kontennya sih, Tabloid PonselKu lebih tau ke arah mana Tabloid ini berjalan. Sedangkan Tabloid Ponsel lebih ke arah infotainment (seleb) yang secara ‘paksa’ dikaitkan dengan dunia ponsel. Di luar itu, saya tidak ingin me-review lebih dalam. hehehe…
Seseorang di dalam perusahaan tersebut berkata jika tabloid tersebut beredar di Surabaya, mungkin akan lebih dikenal dan akan sepopuler Pulsa. Sebenarnya bukan masalah sih, siapa yang lebih dulu hadir karena semua tergantung pada konten yang disajikan dan tergantung siapa yang membaca. Bisa jadi, suatu saat Selular atau Pulsa tidak lagi diminati peminat ponsel karena konten mereka sangat serius dengan gaya bahasa yang (menurut saya) terlalu teknis. Siapa sih yang mau dipusingkan dengan bacaan serius seperti itu? memikirkan masalah pribadi saja sudah mumet, apalagi mikirin yang berat-berat. Saya engga begitu suka dengan infotaintment, saya juga engga suka baca media yang berat karena otak saya engga cukup. Makanya kalau baca tabloid, paling2 saya baca Roaming. Bukan karena saya dekat dengan Omaz tapi liat, deh! isinya engga berat-berat banget kayak Pulsa. Apalagi waktu masih ada Arman yang suka ngoprek hape, dia nulis dengan bahasa yang lumayan ringan. Sayang, si Arman ke mana, ya????
Saya selalu ingat kata-kata Pak Eko, waktu masih di T&t dulu. Dia bilang “kalo kita engga jadi yang pertama maka kita harus jadi yang terbaik”. Intinya cuma dua hal yang harus jadi goal kita, menciptakan suatu hal yang baru dan inovatif atau menciptakan sesuatu yang terbaik di antaranya (ini juga latar belakangnya kenapa saya pengen banget Klik! maju. Saya sempat berpikir, pantas saja jika semua orang menganggap dia pebisnis sejati di dunia media telko. Bahkan ada yang pernah bilang “Lo tau kan, engga ada media yang gagal kalo di tangan Eko Kuntadhi. Liat aja Majalah T&t, tabloid phone3, pasti freemagz Mobile juga bakal sukses.”
Sekarang kita runut beberapa media trendsetter n the best di dunia telko (walaupun arti the best harusnya bisa diklasifikasikan lagi menjadi beberapa item, tapi ini kan cuma pemikiran pribadi, bukan riset yang membutuhkan data-data berat)
Majalah
Pertama : Selular
Terbaik : T&t
Tabloid
Pertama : Ponsel
Terbaik : Roaming
FreeMagz pertama : Mobile
E-magz pertama : Klik!Magazine
wah wah wah. ape lu kate deh. semua juga gak ada yang tau siapa yang garemin laut heheheheheheeh
ape lu kate deh sar, semua orang juga gak tau siapa yang garemin laut heheheheheheh.
salam dari anak medan…
bang, tolong postingkan cara membuat proposal menerbitkan medaia cetak (tabloid).
sekalian ama tips-tipsnya ya…
trims…
April 5, 2007 pada 7:31 am
Luar biasa ibu satu ini. Sekarang sudah menjadi pengamat media Telko. BRAVO:)