
Cinta,
Aku telah menyusuri jalan setapak itu
Jalan setapak yang telah kau tunjukkan kepadaku menuju rumahmu
Kau bilang jalan itu harus ku lalui agar aku bisa bertemu denganmu
Cinta,
Mengapa jalan yang kau tunjukkan itu tidak seperti apa yang telah kau ceritakan
Kau bilang jalan yang lurus tapi aku temukan berkelok
Kau bilang pemandangan indah di kanan kirinya tapi aku temukan pepohonan mengering di sepanjang jalan menikung
Cinta,
Aku telah sampai di ujung jalan
Apakah masih jauh aku harus berjalan untuk menuju rumahmu?
Apakah aku masih harus menemui jalan setapak lain untuk bisa merasakan sejuknya duduk di depan teras rumahmu?
Cinta,
Aku lelah
Kakiku letih berjalan bertahun-tahun lamanya hanya untuk mencari jalan menuju rumahmu
Benarkah jalan ini yang bisa membawaku bertemu denganmu?
Ataukah aku hanya akan menemukan gubuk liar dengan atap tembikar yang akan membasahiku dengan hujan peluh dan darah?
Aku letih, tapi rumah cintamu belum juga terlihat
Aku kedinginan, tapi perapian rumahmu belum juga berasap
Aku kehujanan dan tubuhku basah bermandikan airmata tapi pagar rumahmu belum juga bersinar
Aku ingin mati tapi dirimu belum juga datang membawa keranda bertuliskan maaf
Cinta,
Ketika tubuh ini sudah tak kuat lagi menopang raga
Aku mohon, datanglah menuju dunia tak berujung
Bacakan kepadaku sekali lagi tentang arah menuju jalan cintamu
Mungkin suatu saat
Aku temui rumah cinta yang lain di jalan keabadian
Agustus 20, 2008 at 12:27 pm
Kemsaw!
Oh, betapa mengharukannya, ternyata lo bisa nulis puisi juga ya ^0^