Sebenernya cerita ini mo gue posting beberapa minggu lalu, tepatnya waktu ke kontrakannya Lucy yang nun jauh di
sana, bahkan gue sempet nanya ma yuyung “ini ujung dunia, ya?” <sorry, Luc!>
Hal pertama yang bikin gue terkesima adalah ketika kita belanja dulu di Hari-hari swalayan… ternyata ‘ujung dunia’ itu mampu menyediakan harga susu jauh lebih murah. S26 yang setiap bulan gue beli 4 kaleng buat anak gue, satu kalengnya Cuma seharga 147.000 rupiah, padahal di Hero deket rumah gue sampe 167.000. Anjrit! Segitu jauh daerahnya, jauh pula harganya. Lumayan banget! “apa bisa gue minta tolong lo beliin gue 4 kaleng susu di situ tiap bulan, Luc?” <gubraaaakkkkk!>
Setelah mengagumi harga murah dan makan berbagai macam masakan itali <kecuali makaroni skutel yang lebih mirip sup, hehehe> akhirnya kita pulang dengan perasaan bega! hitung aja, berapa makanan yg kita makan? <spageti, macaroni, krupuk bangka, pop mie, fanta, pudding>
Gue ma yuyung memutuskan tuk naik busway dari <gue lupa nama shelternya. Dimana, Yung?> Mungkin bisa dibilang ini PERTAMA KALI gue naik busway. 25 tahun hidup di
Jakarta, baru kali ini naik Busway! Walhasil, Yuyung bete karena gue selalu nanya pertanyaan yang sama berulang2. “nanti kita pisah di senen, ya? Trus gue nerusin naik busway ke kp melayu? Bayar lagi ga? Naik tangga ga? Naiknya sebelah mana? nanti nanya sama siapa? Buswaynya warna apa? Sama engga ama yang ini? <kata Yuyung : “
cape
deh! Dasar Ndeso!”>
Hebat deh! <bukan gue yang hebat, tapi pemerintah
Jakarta> di sekeliling busway itu dalemnya…. Ternyata dijadikan alat tuk promosi. Setiap sisi kaca dijadikan tempat promosi Indonesian idol sedangkan handholder-nya <yang jumlahnya puluhan> masing2 disematkan display iklan Tango. Entah apa hubungannya dengan busway, seberapa efektifnya iklan tersebut bisa ada di busway? Dan yang jadi pertanyaan adalah, apa kontribusi iklan busway tersebut terhadap pembangunan
Jakarta? Bukannya anggaran busway udah dialokasikan dari pemerintah? <ada yang tau ga? apa gue aja yg ga merhatiin berita?>
Kalo gue berpikir negatif sih, kaya juga ya, pemerintah DKI! Bayangin aja, dari dana busway yang trilyunan itu, bukan engga mungkin kalo mereka korup sedikit dari situ aja udah berapa keuntungan yang bisa mereka dapetin? Ditambah tempat promosi yang available di busway, Pasti duit pemerintah DKI udah engga ada serinya, ngitungnya aja ngebutuhin bantuan tangan berjuta2 penduduk DKI. Tapi kenapa di
Jakarta masih banyak orang miskin? Banjir di mana2 yang ngebuat
Jakarta lebih mirip Kolam renang terbesar di dunia.
Nanti ketika Adang Daradjatun naik jadi Gubernur, apa dia akan berperilaku sama? Apa mungkin majalah Telset akan beriklan di Busway? Atau iklan Stuff akan didisplay di setiap HandHolder busway? <Mudah2an sih, engga>


