Teknologi Mengubah Perempuan Indonesia Menjadi Wanita

Posted on April 20, 2011

0


Suatu hari, seorang wanita yang baru saya kenal meng-add pin BBM saya untuk masuk ke dalam grup asuhannya. Orangnya cantik, namanya Emi. Ternyata grup BBM yang diberinya nama ‘Female Stuff’ itu merupakan ‘lapak’ baginya untuk menjajakan barang dagangan.

Sedikit bingung sih. Kok bisa dia punya pikiran untuk membuka ‘lapak’ di BBM. Awalnya anggota grup itu baru 12 orang, sekarang setelah sekian bulan, anggotanya sudah 30 (sesuai dengan batas grup yang ditentukan Blackberry). Jika awalnya dia menjual baju, sekarang tas dan sepatu serta asesoris pun telah ada di ‘lapak digital’nya.

“(lu)Mayan penghasilannya, bisa buat nambah-nambahin dana nikah,” ujar Emi suatu hari kepada saya.

Di tengah teknologi digital yang cukup pesat ini kegiatan jual beli memang bukan lagi hal yang sulit untuk dilakukan. Hanya dengan Blackberry, web, jejaring sosial macam Facebook dan Twitter, serta media online apapun telah memberikan ruang yang cukup besar bagi orang-orang untuk berwiraswasta. Banyak juga orang yang menyebut dengan istilah ‘wiraswastawan digital’.

Tidak dipungkiri lagi jika kemudian banyak perempuan yang telah berubah menjadi wanita. Mengapa saya membedakan istilah perempuan dengan wanita? karena pada dasarnya telah terjadi pergeseran makna antara istilah perempuan dengan wanita, dimana wanita memiliki derajat lebih tinggi ketimbang perempuan yang dinilai berdasarkan perbedaan tingkat pengetahuan, kemampuan untuk mandiri, dan berkarir. Kini dengan teknologi digital, semua hal tersebut mampu mengikis perbedaan itu dan menjadikan semua perempuan Indonesia mampu menjadi ‘Wanita’ sehingga jangan protes kalau dalam tulisan ini saya lebih memilih istilah ‘wanita’ ketimbang ‘perempuan’.

Memanfaatkan teknologi digital bagi wanita memang bukan satu-satunya opsi untuk menjaga keseimbangan antara karir dan keluarga. Buktinya banyak juga wanita Indonesia yang berkarir sebagai IT profesional.

Mungkin Indonesia tidak memiliki data spesifik mengenai jumlah wanita pekerja dibidang IT. Namun jika kita lihat data di AS melalui National Center for Women & IT, jumlah wanita yang bekerja sebagai IT profesional di AS tahun 2009 lalu mencapai 25 persen dari total pekerja IT profesional secara keseluruhan. Angka ini turun 11 persen dibanding data 8 tahun lalu yang mencapai 36 persen. Apa pasal? Menurut data tersebut kebanyakan wanita-wanita itu lebih memilih bekerja di rumah dengan bermodalkan media teknologi yang sudah ada. Kebanyakan dari mereka memilih untuk berbisnis di dunia maya, tidak hanya dibidang e-commerce tapi juga konsultan, dunia tulis menulis (blog, ebook), dan industri lain yang memungkinkan mereka berusaha untuk menjadi seimbang, baik dalam hal mencari uang maupun menjaga keluarga.

Seperti halnya di negara luar, perempuan Indonesia pun mulai mencari celah di dunia digital. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang bekerja sambil mencari penghasilan di dunia maya hanya untuk mengubah jati diri mereka menjadi wanita.

Sama seperti Emi, saya rasa ada banyak wanita-wanita lain di Indonesia yang memanfaatkan dunia digital.

Jika memang istilah Kartini Digital itu ada. Saya yakin, Emi dan para wanita yang mengikuti jejaknya layak dinobatkan sebagai Kartini Digital. Pasalnya semua wanita yang bisa memanfaatkan teknologi digital dan memiliki penghasilan dari situ sehingga tidak perlu melalaikan keluarga, saya anggap mampu menerapkan semangat ‘Kartini’ dalam kehidupan kesehariannya.

Selain Emi dan para wanita penggiat dunia maya, beberapa wanita yang saya anggap cukup berhasil meraih perhatian di dunia digital, misalnya Penulis beken, Salsabeela (OLie), yang memiliki startup lokal untuk menumbuhkan minat baca. Ada lagi Shinta Danuwardoyo, mantan CEO Mojopia dan juga dikenal sebagai CEO Bubu.com. Atau ada juga Iim Fahima, wanita yang pernah menjadi finalis Asia’s Best Young Entrepreuners 209 dan sekarang dinobatkan sebagai CEO Virtual Consulting, sebuah perusahaan konsultasi online.

Jika digital yang dimaksud merupakan media seperti jejaring sosial dan web, nama-nama seperti @tikabanget (tweetnya yang kocak dan menghibur), @alissawahid (tweet menyoal kehidupan keluarga dan cinta), @beradadisini dan @nsadjarwo (pendiri Coin a Chance), @trinitytraveler (tweet bertema travel dan penulis buku), @najwashihab (presenter/jurnalis), @merrymagdalena (sharing pemikiran dan ide), dan semua wanita pemilik akun twitter yang mau membagi ilmunya kepada orang lain (follower).

Tidak hanya meraih peluang di dunia digital, wanita Indonesia pun banyak yang berhasil menjadi pekerja IT profesional, meski kebanyakan wanita yang bekerja di dunia IT identik dengan divisi Public Relation (PR/Humas) dan hanya segelintir yang benar-benar difungsikan untuk mengalahkan pria di bidangnya. Beberapa dari yang sedikit itu (yang saya kenal) diantaranya ada yang menjabat sebagai country manager perusahaan IT, ahli nuklir, hingga direktur infrastruktur di perusahaan telekomunikasi.

Dari yang sedikit itu, sebut saja mantan Managing Director PSG HP Indonesia, Megawati Khie, yang dulu pernah menjabat sebagai Country Manager Dell untuk Indonesia dan kini dipercaya untuk menggarap bisnis WebOS di Asia Pasifik.

Wanita tangguh lainnya yang mampu berbaur dan membuat pria membelalakkan matanya adalah Dian Siswarini, yang kini menjabat sebagai direktur jaringan yang mengurusi infrastruktur perusahaan telekomunikai swasta, mulai dari kabel, BTS hingga menara.

Mau lagi yang lain? Ada Ibu Clara Yono Yatini. Wanita usia paruh baya lulusan S2 Tohoku University itu telah bergabung selama bertahun-tahun dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan sekarang telah menjadi seorang ahli di bidang Astronomi.

Wanita lain yang sukses sebagai ahli di LAPAN adalah Rika Andiarti. Dirinya memiliki spesialisasi sebagai control engineering yang juga memiliki andil dalam membuat roket RX-420, roket terbesar yang dibuat LAPAN sebagai peluncur satelit. Lulusan S3 bidang teknik kontrol Ecole Centrale Nantes, Prancis ini sekarang dikenal sebagai ahli roket dan kedirgantaraan.

Mungkin masih banyak wanita-wanita tangguh yang namanya belum sempat bergema di dunia maya. Namun yang jelas, teknologi dan dunia maya mampu mengubah derajat seorang perempuan. Mereka jadi bisa meniti ‘karir’ dan mendapatkan penghasilan tanpa harus meninggalkan keluarga. Mereka bisa bersosialisasi dan menambah pengetahuan serta informati meski tidak harus melalaikan tugas di rumah. Mereka pun masih bisa mengenal dunia luar tanpa harus keluar rumah.

Perempuan Indonesia kini telah menjadi Wanita. Hidup wanita Indonesia!

Iklan
Posted in: Uncategorized