Banyak Cara Menulis Surat Resign

Posted on Juli 27, 2011

0


Cintailah profesimu, bukan perusahaan tempatmu bekerja.

Ungkapan itu seringkali menyemangati para pekerja yang sudah merasa muak stadium empat terhadap kantor yang didiaminya. Memang benar adanya. Sebuah perusahaan bukanlah sesuatu yang menjadi milik kita, melainkan milik bos-bos besar. Sedangkan profesi adalah sesuatu yang telah menyatu dengan diri kita.

Lalu apa yang dilakukan oleh banyak orang ketika rasa muak terhadap bos, bosan dengan rutinitas, dan bahkan tidak lagi bisa bertahan di suatu perusahaan yang didiaminya selama bertahun-tahun? Satu-satunya jalan adalah mengundurkan diri.

Anehnya, setiap temen gue ada yang ingin mengundurkan diri dari tempatnya bekerja, mereka selalu meminta contoh surat resign gue. Padahal cara membuat surat resign itu gampang banget. Tinggal tulis aja, ditujukan ke siapa, kenapa anda resign, kapan waktu efektif pengunduran diri anda, plus kasih embel-embel puja puji buat bos-bos di kantor, seberapa pun bencinya anda terhadap mereka.

Sayangnya, setelah dipikir-pikir, surat resign yg kayak gitu ternyata ngebosenin ya. Terlalu ngejilan gimannnaaaa, gituh. Gue yakin, setiap elo nulis surat resign kayak gitu, pasti ujung-ujungnya elo bete karena ngerasa seperti masih menyimpan dosa besar di dalam hati lo.

Bukan ngerasa dosa karena udah meninggalkan perusahaan itu (klo tuh perusahaan bisa jadi tempat yg enak buat kerja, ga mungkin orang resign dari situ lah!). Tapi karena elo udah bersikap sangat munafik dengan menutupi keadaan yang sesungguhnya membuat elo bisa resign dari situ. Mungkin seharusnya kita nulis surat resign dengan sangat jujur dari lubuk hati yang paling dalam. Entah itu karena elo engga suka dengan manajemen kantor, engga suka dengan sikap bos lo yang sotoy and cuma numpang jabatan, atau elo terpaksa resign karena emang gaji di perusahaan itu jauh di bawah standar.

Sama halnya seperti elo menulis surat cinta ke pacar, atau nulis surat untuk mutusin hubungan lo sama yayang, begitu juga seharusnya surat resign ke perusahaan. Harus jujur apa adanya, tapi dengan bahasa yang berbeda dan jauh lebih formal.

Meskipun elo ga tau apakah dengan surat cinta itu maka cinta lo akan terbalas, atau apakah dengan surat putus maka pasangan lo akan mengerti dan menerima keputusan lo untuk mengakhiri hubungan kalian, setidaknya elo udah mengutarakan unek-unek lo, perasaan lo yang hanya bisa disimpan dalam-dalam hanya dengan surat. Meski akhirnya ditolak, atau elo digamparin ama pasangan lo, toh setidaknya maksud dari perasaan lo udah tersampaikan. Begitu juga dengan surat resign yang jujur apa adanya. Meski elo ga tau bos/perusahaan tempat lo kerja akan berubah atau engga setelah mendapat surat resign yang berisi kritikan, setidaknya elo udah bisa mengungkapkan apa yang terjadi sebenarnya di level karyawan, dan tidak bisa dilihat oleh si bos.

Klo bos lo udah diperingatkan dengan surat resign tapi tetep bebal juga, itu beda lagi urusannya. Serahin aja ama tuhan. Mau diapain tuh perusahaan. Dan itu artinya, keputusan lo untuk resign sudah benar adanya. Lebih baik elo berkreasi di perusahaan kecil tapi mau berkembang dengan mendengarkan kritikan dan introspeksi, ketimbang di perusahaan besar yang hanya mengandalkan nama besar induk perusahaan tanpa menganggap karyawan sebagai aset berharga, malah menganggap karyawan sebagai babu dan sapi perah dalam mencari revenue sebesar-besarnya.

Nah, pas lagi browsing-browsing, gue nemu satu link yang cukup menarik. Sebuah blog beralamat di jamescrawford.org.uk. Salah satu postingannya berisi sebuah surat pengunduran diri milik seorang jurnalis di Daily Star.

Tidak seperti surat resign biasa yang pendek dan terkesan hipokrit, jurnalis yang bernama Richard Peppiatt itu menulis surat panjang lebar menceritakan banyak alasan mengapa dirinya ingin keluar dari Daily Star. Peppiatt benar-benar menggunakan kemampuan menulisnya, dan profesinya sebagai jurnalis untuk mengungkapkan kegalauannya selama bekerja di Daily Star.

Surat resign Peppiatt bisa dilihat di www.jamescrawford.org.uk/daily-star-resignation-lletter/media  Yang paling menarik adalah bagian terakhir yang dituliskan Peppiatt untuk bos Daily Star.

 

 

“If you can’t see that words matter, you should go back to running porn magazines. But if you do, yet still allow your editors to use inciteful over insightful language, then far from standing up for Britain, you’re a menace against all things  that make it great. I may have been just a lowly hack in your business empire, void the power to make you change your ways, but there is still one thing that i can do; that i was trained to do; that i love to do… i write all about it”

Terus gue juga nemu surat pengunduran diri yang ditulis oleh seorang blogger. Ga tau juga, apa surat ini benar-benar diberikan ke perusahaannya yang dulu atau engga. Berikut kopiannya,

 

 

 

 

Dear Boss,

You know why i want to resign?

Since i worked for you, i have no time to blog anymore. When i don’t have time to blog, my readers hate me. When they hate me, they don’t visit my blog anymore, then my hits will drop, i become unhappy. When i become unhappy, i will eat a lot, then i will get fat. When i get fat, it’ll affect your company’s image, your business will be no good. When your business no good, u will be unhappy, then you’ll eat alot. Like me, you’ll be fat also.

You see, boss. It’s a vicious cycle. I did everything for your own good because i care for you, boss.

So the conclusion is, i want to resign. Please let me go.

With no respect,

Me

 

 

Nah, kalo yang surat resign yang satu ini tergolong polos abis.

 

 

 

Kepada Yth,

Bpk/Ibu Pimpinan

di tempat.

Bersama dengan surat ini, saya bermaksud mengajukan pengunduran diri saya sebagai karyawan di perusahaan ini, terhitung efektif satu bulan setelah surat resign ini saya berikan.

Terima kasih banyak atas kerja samanya selama ini dan telah memberikan saya kesempatan untuk bergabung di perusahaan yang anda pimpin. Saya juga berterima kasih karena telah diperbolehkan menggunakan peralatan kantor, untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain padahal saya masih tercatat sebagai karyawan di sini.

Adapun fasilitas kantor yang saya gunakan untuk melamar pekerjaan lain adalah, komputer dan internet untuk mengirimkan surat lamaran plus CV, serta mencari lowongan pekerjaan di LinkedIn, Jobstreet, JobsDB dan portal loker lainnya, mesin fotokopi untu menggandakan KTP dan surat ijazah saya, ponsel kantor untuk menerima panggilan dari Headhunter, terkadang pulsa kantor juga saya gunakan untuk menelepon balik. Oia, saya juga menggunakan motor kantor untuk bolak-balik interview, dengan bensin yang bisa direimburse kantor pulak.

Saya juga minta maaf jika selama ini saya selalu merepotkan. Bahkan di detik-detik terakhir pun saya merepotkan anda karena tidak masuk selama seminggu setelah saya menerima THR, sampai akhirnya waktu resign yg ditentukan pun tiba dan saya tak kunjung datang lagi ke kantor.

Demikian surat ini saya buat dengan penuh dendam dan tekanan batin. Harap maklum.

Hormat saya,

Siapapundia

Yang mana surat resign paling menarik menurut lo?

Nah, ya udah, tulis surat resign versi lo sekarang juga! *loh* 😀

Iklan
Posted in: Uncategorized