Hmmm…

Ternyata wartawan tanpa status alias obat pusing alias bodrex kini lebih canggih. Hanya dengan biaya 10.000 per bulan, buat hosting, mereka bisa bikin media ‘asal jadi’. Sebenernya inilah yang dimaksud dengan arus informasi yang tiada batas. Dengan media online, kita jadi engga bisa bedain mana media yang murni transformasi arus berita dengan media ‘ecek-ecek’ yang asal jadi. Bahkan ada juga yang dijadikan ajang, bagi orang-orang tertentu, untuk mereguk keuntungan pribadi, cuma pengen dapet suvenir, doorprize sampe amplop akibatnya berita yang ada cuma kupipes dan asal tayang.

Hhhhh….. akibatnya, bukan tidak mungkin jika nara sumber (narsum) akhirnya memukul rata setiap media online yang ada, sebagai ’obat pusing’ yang mengambil kesempatan dengan menggunakan kecanggihan teknologi.

Mestinya Dewan Pers memberikan peraturan tegas terhadap maraknya media online dadakan yang dibuat asal jadi, khususnya News, karena dengan demikian bisa jadi akan banyak orang yang menamakan diri mereka ‘wartawan’.

Misalnya saja dengan membuat ijin resmi bagi media online (khusus News), pembentukan peraturan penggunaan media online sebagai transformasi berita, atau kalau perlu mengeluarkan kartu pers atau kartu nama resmi agar orang tidak asal bikin media online dan menggunakan kartu pers dan kartu nama mereka dengan seenaknya.

Buat para narsum, ada baiknya mereka bisa jeli memilah dan memilih, mana wartawan media online yang idealis dan benar-benar media online, dengan ‘wartawan-wartawanan’ (reduplikasi di sini diartikan sebagai ’seolah-olah dibentuk seperti’).

Mestinya kecanggihan teknologi tidak disalahgunakan sedemikian rupa. Soalnya media online itu memiliki potensi penyebaran berita yang cukup luas dan transformasi beritanya pun cukup cepat. Media online sering dijadikan rujukan bagi media-media cetak (mudah2an media cetak bisa tahu mana media online yang cukup akurat dan mana yang tidak).

Oleh karena itu, kesalahan pemberitaan dapat menimbulkan akibat yang cukup fatal. Sekali berita dikutip, semua tersebar dan dibaca banyak orang. Jika salah, besar kemungkinan banyak orang yang akan dirugikan. 

Hal itulah yang mengharuskan dewan pers, sebagai payung media nasional, seharusnya bisa mengantisipasi maraknya media online ecek-ecek yang bermunculan.

Tulisan ini saya buat sebagai bentuk keprihatinan saya terhadap maraknya penyalahgunaan media online, khususnya News, untuk kepentingan komersil tapi tidak dibuat dengan niat sehingga malah menjadikan media online sebagai media ’kedok’.

Harusnya para pembuat media online bisa berpikir dua kali untuk membuatnya karena pada dasarnya membuat media online itu harus dipikirkan dengan matang, tidak hanya asal jadi dalam bentuk situs dan hosting murah. Membuat media online itu tidak MUDAH. Perlu perhitungan matang akan resiko yang dihadapi.

Lagipula media online itu harus bisa menerapkan 3 buah proses. RUNNING, BREAKING dan REAL TIME. Artinya, media online itu harus bisa memberikan berita setiap harinya, setiap jam dan kalau perlu setiap menit. Bahkan, karena media online merupakan media yang sering menjadi rujukan media cetak karena sifatnya yang 3 itu, maka media online tidak hanya sekedar mampu memberikan informasi acara, launching atau deskripsi event/produk saja tapi juga mampu mengakomodir 5W1H dan menghadirkan isu yang bisa dipertanggung jawabkan.

Tidak ada kata lain, Media online (News) harus memiliki etika yang dapat mengatur dan membatasi kemunculan dan gerak mereka karena ini juga demi kepentingan dan nama baik media online ‘beneran’.

    

Senggigi, Lombok

8 Desember 2007

Kalo Tuhan marah, mungkin kayak gini, ya…

gods-anger.jpg

Masih gue yang motret, loh!!!

Senggigi, Lombok

8 Desember 2007

sky-in-blue-red-yellow-n-even-dark.jpg

Lo pasti ga percaya kalo ini, gue juga yang motret.

Senggigi Lombok, 8 Januari 2007

Harusnya gue yang ada di sebelahnya, cuma gue engga pede, jadi gue suruh aja mba Ria. Lagian kalo gue yang di sebelahnya, siapa yang motret? Bagus, kan foto gue…

waiting-for-miracles.jpg

Senggigi Lombok,  8 Desember 2007

diving-to-the-future2.jpg

Menulis cinta kepada Tuhan

 Cinta,

Aku telah menyusuri jalan setapak itu

Jalan setapak yang telah kau tunjukkan kepadaku menuju rumahmu

Kau bilang jalan itu harus ku lalui agar aku bisa bertemu denganmu

 

Cinta,

Mengapa jalan yang kau tunjukkan itu tidak seperti apa yang telah kau ceritakan

Kau bilang jalan yang lurus tapi aku temukan berkelok

Kau bilang pemandangan indah di kanan kirinya tapi aku temukan pepohonan mengering di sepanjang jalan menikung

 

Cinta,

Aku telah sampai di ujung jalan

Apakah masih jauh aku harus berjalan untuk menuju rumahmu?

Apakah aku masih harus menemui jalan setapak lain untuk bisa merasakan sejuknya duduk di depan teras rumahmu?

 

Cinta,

Aku lelah

Kakiku letih berjalan bertahun-tahun lamanya hanya untuk mencari jalan menuju rumahmu

Benarkah jalan ini yang bisa membawaku bertemu denganmu?

Ataukah aku hanya akan menemukan gubuk liar dengan atap tembikar yang akan membasahiku dengan hujan peluh dan darah?

 

Aku letih, tapi rumah cintamu belum juga terlihat

Aku kedinginan, tapi perapian rumahmu belum juga berasap

Aku kehujanan dan tubuhku basah bermandikan airmata tapi pagar rumahmu belum juga bersinar

Aku ingin mati tapi dirimu belum juga datang membawa keranda bertuliskan maaf

 

Cinta,

Ketika tubuh ini sudah tak kuat lagi menopang raga

Aku mohon, datanglah menuju dunia tak berujung

Bacakan kepadaku sekali lagi tentang arah menuju jalan cintamu

 

Mungkin suatu saat

Aku temui rumah cinta yang lain di jalan keabadian

adang-dani.jpg

Kampanye Pilkada Jakarta, Adang vs Foke, emang bisa dibilang greget banget. Selain karena cuma melibatkan dua pasang calon, di sisi lain ini merupakan pertarungan PKS vs Parpol lain. Kalo bisa dibilang keroyokan, yaaa, emang keroyokan adanya.

 

Tapi secara pribadi, gue sendiri emang lebih milih Adang bukan karena individunya tapi lebih karena loyalitas gue terhadap PKS. Gue emang bukan anggota aktif PKS, atau simpatisan mania, hanya sekedar simpatik aja (kalo elo mengamati gerak dan kinerja PKS, lo pasti juga bakal ngerasa kayak gini). Walaupun begitu gue ngerasa KEMENGAN ADANG di Pilkada nanti bisa jadi merupakan tolok ukur atas EKSISTENSI PKS di Jakarta.

 

Ketika PKS maju sebagai organisasi peserta Pemilu sejak dua kali Pemilu terakhir ini, PKS sudah membuktikan bahwa mereka benar-benar partai serius dan solid. Dan Jakarta merupakan basis masa PKS paling besar. Depok aja berhasil menaikkan kader PKS menjadi walikota di sana, ini merupakan bukti kalau PKS juga ‘besar’ di Depok. Kini, bukan engga mungkin kalau Jakarta pun seharusnya bisa menaikkan Adang menjadi Gubernur.

 

Walaupun banyak terjadi spekulasi seputar pengangkatan Adang oleh PKS tapi apa sebaiknya kita tidak berpikir ke depan, berpikir untuk menghentak Jakarta dan membuktikan kalau PKS itu masih dan akan terus BESAR.

 

“Emang engga ada kandidat yang lebih bersih?” atau “Adangnya sih okelah! Tapi keluarganya? Apa bisa jamin kalau nanti engga aka nada nepotisme di masa pemerintahan Adang?”, belum lagi rumor PKS yang terbelah menjadi dua bagian, pendukung Adang dan Bukan Pendukung (terpaksa mendukung).

 

Sepanjang cerita dari orang yang pernah bekerja di dalam Kerajaan Adang (Kerajaan sang Istri maksudnya, Nunun Nurbaeti), hampir semua Anak-anak mereka, dan saudara mereka bekerja di situ. Ini mungkin bisa dibilang nepotisme tapi kalau dilihat dari sisi positifnya, berarti mereka berhasil mengimplementasikan anjuran “Bantulah saudara terdekatmu terlebih dahulu sebelum membantu orang lain”. Sayangnya anak-anak mereka yang mengenyam pendidikan di luar negeri bisa dibilang terlalu terpaku dengan usaha orang tua mereka. Apa ini bukti kalau mereka adalah anak mami yang engga pernah bisa berusaha sendiri. Coba deh, kalau seandainya mereka bisa ‘berdiri’ tanpa bantuan kaki orang tua, apa mereka bisa menjadi seperti ini?

 

Trus banyak juga yang bilang, bahkan dari hasil wawancara gue dengan beberapa pihak di sekitaran kantor miliki Istri Adang, kebanyakan dari mereka tidak menyukai dengan prilaku anggota keluarga Adang yang terlalu berlaga sebagai penguasa, bahkan cenderung menganggap mereka sebagai orang rendahan. Kata-kasar yang sering mereka lontarkan dan perlakuan yang selalu tidak mengenakkan.

 

Malah seorang temen gue pernah bilang kalau seorang wartawan pernah difitnah salah satu anak Adang, padahal si wartawan sangat simpatik terhadap PKS dan hanya berniat membantu mengajak wartawan lain tuk mendukung Adang dalam setiap pemberitaannya.

 

Mungkin kalau dilihat dari sisi keluarga (kesombongan , keegoisan dan perilaku), bukan tidak mungkin Adang tidak akan mendapat simpatik dari warga Jakarta. Untungnya cuma sedikit orang yang tahu tentang keadaan keluarga Adang yang seperti itu.

 

Intinya sih, sebenernya, gimana Adang mau merawat Jakarta kalau merawat keluarganya aja udah gagal.

 

Nah, di sinilah ke-solid-an PKS di uji. Di sela-sela rumor yang tidak mengenakkan, jangan sampai kita pun terbawa arus sehingga menyebabkan PKS benar-benar pecah.

 

 

Eksistensi PKS itu ada di tangan kader dan simpatisan. Terpilihnya Adang sebagai gubernur Jakarta merupakan bukti eksistensi PKS. Kita mungkin boleh tidak menyukai Adang tapi ada baiknya jika kita singkirkan semua itu demi kepentingan umat.

Jika kita tidak memilih karena Adang, setidaknya pilihlah karena PKS. Karena umat!

dude-kayak-siapa-ya.jpg

Temen2 gue bilang, cuma emak2 yang suka ama Dude. Tapi gue suka apa ini berarti gue termasuk emak2 ya? ah.. engga ah. Gue cuma punya anak usia 5 bulan, lagipula gue juga masih 26 tahun kok!

Masa’ Gadis kayak gue engga boleh suka ama Dude, sih?

Mirip siapa ya?? Kok kalo diliatin lama2, Dude mirip juga ama anak gue, apa Dude itu bokapnya anak gue ya???

Gue engga pernah bisa ngerti sama pemain industri yang engga sama sekali menghargai media online, atau bahkan tidak menyertakan online dalam daftar pers mereka.

Beberapa dari mereka lebih suka mendahulukan media cetak dan menganggap online hanya sebagai media substitute aja. Padahal menurut data yang gue dapet dari AFP, media cetak saat ini sedang mengalami penurunan dan kalau mereka ingin bangkit, maka satu-satunya hal yang harus mereka jalani adalah membuat media online. Tapi bukan sebagai media pelengkap atau pengganti.

~ Pernyataan ini dilontarkan pada pertemuan ke-60, World Association of Newspaper (WAN) dan forum Editor se-dunia yang ke-14, seperti dikutip dari AFP, Rabu (6/6/2007). “Kita harus menyadari bahwa media mulai mengarah ke online, dan kita harus mulai mengarahkan jurnalisme kita ke arah itu,” kata Mario Garcia, Chief Executive of The United States–Garcia Media Group.

Dia menggambarkan, perjalanan baru sebuah media akan berawal dari breaking news yang dibaca melalui email atau ponsel. Kemudian para pembaca akan melanjutkannya dengan membaca berita melalui situs online. Dan akan berakhir dengan membaca koran di hari berikutnya. Dalam skenario seperti itu, lanjutnya, koran hanya akan berlaku sebagai pengulang berita. Padahal awalnya koran merupakan media yang memposisikan diri sebagai pencipta isu dan selalu menghadirkan berita-berita baru bagi pembacanya.

Martha Stone, Direktur Program WAN “Membentuk Masa Depan Koran Harian”, mengatakan pada forum bahwa sudah saatnya bagi media untuk menggabungkan keahlian jurnalisme antara cetak, radio, televise, dan online. “Saat ini banyak sirkulasi media cetak yang menurun jumlahnya, namun mereka mencoba bertahan dengan meraih pasar di internet,” katanya ~

Bahkan menurut data mereka, media cetak yang memiliki backing online maka pendapatan iklannya pasti naik.

Nah, terus kenapa industri engga pernah nyadar akan hal ini dan tetap memandang media online sebelah mata. Malah gue pernah nemuin salah satu operator telko di Indonesia yang SANGAT BESAR, menyatakan terang-terangan, kalau mereka tidak akan menyertakan media online untuk diikutkan dalam lomba penulisan jurnalistik mereka. Alasannya sangat sepele ‘karena media online di Indonesia masih sedikit’ dan dia hanya menyebutkan dua nama Detik dan Antara.

Gue sih cuma ketawa-ketawa aja karena dari situ gue jadi tau kadar pengetahuan teknologi dia sangat sangat sangat kurang, dan pertanyaannya adalah “apa operator telekomunikasi sebesar itu engga menyediakan pelatihan internet buat karyawannya?”

Bayangkan, dong! internet itu kan media yang luas. Kalo orang perancis bilang “sans frontier” alias tanpa batas. Dan media online di indonesia itu engga cuma Detik n Antara aja. Mestinya ada orang yang harus ngasih tau dia tentang luasnya internet dan banyaknya media online.

web mandiri (klik, okezone, astaga, rileks, dll) atau web kelahiran media cetak (tempo interaktif, Kompas cyber media, Bisnis, selular online, dll) atau Blog2 serius yang banyak ditulis secara pribadi oleh wartawan bahkan praktisi atau pemerhati. Banyak toh?

 Trus, kenapa mesti terpaku terus sama Detik atau Antara? Kajian dari online seperti Swa atau warta ekonomi pun masih bisa diperhitungkan. Malah pernah perusahaan Telekomunikasi macam Sinar Mas ‘kebakaran jenggot’ karena merasa ditelanjangi oleh Warta ekonomi yang mengupas tuntas masalah CDMA yang akan mereka keluarkan. Saat itu belum ada satupun media yang mengangkatnya.

Menutup mata akan membanjirnya media online sama saja dengan menutup jalan teknologi dan informasi untuk masuk ke bangsa kita ini. Berpikiran skeptis seperti itu harusnya tidak lagi menggerogoti pemikiran modern jaman sekarang.

Saya cukup salut dengan XL yang pada tahun kemarin menggelar lomba penulisan dengan menyertakan media online bahkan blog untuk ikut serta. Harusnya memang seperti itulah perilaku industri kita saat ini yang mengaku mengusung layanan teknologi informasi sebagai satu-satunya layanan yang mereka kuasai. LG pun pada tahun ini menggelar lomba serupa.

Walaupun sangat kecil kemungkinan online untuk ’dimenangkan’ namun setidaknya industri bisa bertindak lebih bijaksana dengan tidak terlebih dahulu menutup pintu rapat-rapat dan mengatakan

“online is not allowed”  

Waktu gue dipanggil wawancara untuk posisi reporter senior di okezone, gue sempet seneng banget. Iyalah, MNC gitu loh! siapa juga yang engga mau kerja di perusahaan besar dengan gaji dan karir terjamin. Sedangkan setiap gue ngelamar di detik, gue engga pernah dipanggil tuh! Konon karena detik lebih suka yang freshgrad. <mungkin karena bisa dididik dan yang penting, mau di gaji sedikit.> Senengnya lagi, mereka mengimingi gue tuk megang rubrik sendiri tentang techno di okezone. Setelah sempat berdebat panjang lebar, tercapailah kata sepakat dengan gaji sekian. Itungannya posisi gue bisa disamain ma redaktur tapi kalo soal gaji tetap disamain ama reporter. Pinter bangeeeeet!

Dilema kemudian datang menghantui gue. Gimana engga? ketika gue sedang merintis sebuah usaha, datang sebuah godaan yang sangat mempengaruhi keyakinan gue. MNC yang dapat menjamin karir dan kehidupan elo atau Klik yang udah lo rintis sekian lama dan sedikit lagi bakal ketahuan hasilnya.

Mungkin buat sebagian orang, mereka akan prefer tuk milih okezone daripada harus terus berjuang mempertahankan media yang engga dilirik orang sama sekali, walaupun elo bilang itu inovatif. Tapi bukankah menciptakan sesuatu itu lebih baik daripada harus menjadi follower? Saingan mungkin boleh aja, silahkan kalo elo mampu, tapi ketika elo bisa mewujudkan ide-ide gila yang bisa lo implementasiin sendiri tanpa harus diperintah oleh orang lain, apa itu bukan sebuah kebanggaan? lupain aja masalah sukses atau engga sukses. Lupain dulu masalah profit. Kalo kata Budi Raharjo “kalau engga dikerjakan sekarang, kapan lagi? nanti keburu nyesel”

Lagipula gue belajar dari pengalaman waktu di SELTER dulu. Sebenernya gue nyesel juga ketika mesti ninggalin Selter gitu aja. Banyak orang yang bilang selter punya potensi banyak tuk bisa muncul sebagai sebuah tayangan yang ditonton banyak orang. Namun emang butuh waktu. Harusnya gue engga boleh egois tuk ninggalin dalam keadaan kolaps kayak gitu. Makanya gue berharap keputusan gue ini bener, untuk tidak meninggalkan klik dalam keadaan seperti ini karena gue mulai belajar tuk bertanggung jawab terhadap apa yang udah gue bikin. Meskipun gue juga nulis di tabloid, bukan berarti gue meninggalkan klik. semua juga semata-mata gue lakuin buat klik <hanya orang-orang klik dan tuhan yang tau> Kalo bisa dibilang, posisi gue sekarang sama dengan posisi odie ketika gue ninggalin Selter <emang sulit, mas…. hukum karma kali ya?>

Walhasil, sampe sekarang gue tetap berpegang pada apa yang udah gue bikin. Klik akan tetap bertahan.!

Sebenarnya, seandainya okezone mau sedikit terbuka, mungkin mereka akan jadi saingan detik paling hebat. Hal yang pertama harus mereka lakukan adalah mengganti nama okezone yang menurut gue engga komersil banget. Gue usulin, kenapa namanya engga flashnews.com <eh, ga bisa…. udah ada yg make> atau flash.com aja tuh, belom ada yg pake. Kenapa flash? karena berita lebih cepat tersiar, seperti sebuah kilat, artinya lebih cepat dari hitungan detik. iya kan????

Trus, ubah dong tampilan web-nya. Kok tampilannya standar gitu sih? untuk sebuah media sekelas MNC masa’ tampilannya bagusan klikmagazine.com atau selular online. Banyakin gambar kalo bisa. Otomatis bandwidth-nya juga nambah dan engga masalah buat MNC tuk nambah server, kan???

Kalo bisa berita dibikin menjadi dua versi, satu versi bahasa n satunya versi inggris atau mandarin juga gpp kalo emang mampu. karena internet dan web itu kan sifatnya global, bisa di baca oleh siapa aja, bahkan dari luar negeri sekalipun. kalo dulu kita selalu cari info dari luar negeri yang bahasanya ngebutuhin roaming, sekarang kita balik, mereka yang cari info dari kita, tentu saja dengan bahasa inggris yang juga udah global. Kenapa sih kita selalu cari info dari web luar? kenapa engga mereka yang browsing web-web kita??? emang ga pengen apa, jadi sama dengan web luar? udah saatnya kita bersiap untuk global dan menjadi kiblat dunia luar, jangan kita mulu yang ngikutin mereka.

Nah…. selanjutnya adalah image yang harus dibangun. Jangan sampe semua orang berpikiran cukup dengan baca SINDO, engga perlu lagi baca okezone. Pembedaan konten, bahasan yang kalo bisa engga sama dengan SINDO.

Loh, kok gue jadi sok tau gini, sih? hehehe…. Maaf ya, Pak Farouk, Pak Suwarjono dan Pak Iman…. 

Halaman Berikutnya »